Skip navigation

Gadis Rumah Hantu

Kicau burung mulai terdengar. Rasanya aku tak ingin beranjak dari tempat tidurku. Malas. Seandainya hari ini tidak ada. Seandainya waktu berhenti. Lalu terdengar suara dari bawah.

“Ayo cepat bangun, nanti terlambat.” seru Ibu. Dengan malas-malasan, akupun bangun dari tempat tidurku. Kuambil handukku lalu masuk ke kamar mandi. Kupakai seragam dan sepatuku serta sarapan pagi. Kuambil sepedaku yang tergeletak di garasi. “Aku berangkat!”

Kukayuh sepedaku menuju ke tempat sekolah. Lalu, aku pun melewati sebuah rumah yang kelihatan tua dan tak terawat. Kata orang-orang, tempat itu angker, banyak hantunya. Dulu ada sebuah keluarga yang tinggal di tempat tersebut lalu terjadi sebuah kebakaran besar dan tidak ada yang selamat. Pedal yang kukayuh makin lama makin berat. Bulu kudukku juga berdiri, merinding. Sepi, tak ada orang yang lalu lalang. Tiba-tiba kulihat seorang gadis sedang berdiri menatap gedung rumah tersebut. Takut. Kukayuh sepedaku sekencang-kencangnya. Bruk. Aku menabrak pohon.

“Andi ! Kau tak kenapa-kenapa kan ?” teriak Fany dari arah belakang sambil membawa sepeda. “Arghh…!” teraikku karena kaget. “Hei, kau ini kenapa ?” tanya Fany mendekat dan melihat lukaku. “ Emm, tidak ada apa-apa.” jawabku menahan perih. “ Ayo, kita ke sekolah dan mengobati lukamu. Kau masih bisa berjalan kan ? Sepedamu juga tak rusak parah.” tanya Fany. “Ya, aku masih bisa berjalan dan mengayuh sepeda ke sekolah.” jawabku sambil mengangkat sepeda.

Sesampainya di sekolah, Fany mengantarkanku ke UKS. Dokter jaga mengobati lukaku. Lalu, kami menuju ke kelas. Tak berapa lama bel berbunyi. Semua teman-temanku masuk ke kelas. “ Aneh, kenapa semua langsung masuk ya ?” tanyaku pada Fany. “ Hei, jam pertama kan Pak Wandi lagipula kita kan mau ulangan.” jawab Fany. Aku kaget, padahal aku belum sempat belajar. Selain itu, Pak Wandi terkenal sebagai guru yang galak dan soal ulangannya sangat sulit. Sialnya diriku. Kemudian Pak Wandi datang dengan setumpuk kertas ulangan. Kami diberi waktu 2 jam pelajaran untuk mengerjakan soalnya. Aku lihat soalnya dan kucoba kukerjakan sampai batas waktu yang diberikan. Dua jam pelajaran tak terasa telah berlalu, kertas jawabanku kukumpulkan di depan. Seisi kelas ramai membicarakan soal ulangan tersebut setelah Pak Wandi keluar kelas. Aku tak tertarik dengan pembicaraan tersebut. Aku hanya bisa memikirkan kejadian tadi pagi. Lalu guru yang kedua datang untuk memberikan pelajaran. Pelajaran berjalan seperti biasanya.

Bel istirahat berbunyi. “Di, ayo pergi ke kantin! Aku lapar nih !” ajak Fany sambil menggeret tanganku. “Ya, tapi jangan tarik-tarik dong, sakit nih !” jawabku sambil melepaskan tangannya. “ Lagian pohon kok ditabrak.” canda Fany. “Ah, awas kau !” jawabku lalu berjalan mengikuti Fany yang sudah keluar kelas. Kami lalu pergi bersama menuju ke kantin. Sesampainya di kantin, Fany menghampiri Ibu kantin. Ia memesan soto kesukaannya dan aku hanya memesan es teh. Kami mencari tempat duduk yang kosong. “ Jadi, kamu mau cerita apa ?” tanya Fany yang sedang mengambil sendok. “ Apa yang harus diceritakan ?” tanyaku sambil meminum es teh yang tersedia. “ Tadi pagi itu, sampai-sampai kamu menabrak pohon.” jawab Fany yang sedang mencampurkan kecap ke sotonya. “Ah, nggak ada apa – apa kok.” Aku melihat ke arahnya. “Beneran nih. Ya sudah kalau begitu.” Dia pun melanjutkan makannya. 

Bel dimulainya pelajaran berbunyi, kami kembali ke kelas. Pelajaran berjalan seperti biasanya. Tetapi aku masih memikirkan kejadian tadi pagi. Aku bertanya-tanya siapa gadis tersebut dan apakah dia hantu atau manusia. Pelajaran telah selesai, kami pun beranjak dari kelas. “ Maaf Andi, aku tidak bisa menemanimu pulang, aku ada janji ke toko buku bersama Raya. Kamu tidak apa– apa  kan kalau sendiri ?” tanya Fany cemas. “Emang aku ini anak kecil. Aku bisa pulang sendiri.” jawabku lalu mengambil sepeda. “Oke deh, sampai ketemu besok pagi dan jangan sampai menabrak pohon lagi ya !” Dia mengambil sepedanya dan melambaikan tangan ke arahku lalu pergi ke luar sekolah.

Kukayuh sepedaku menuju ke rumah. Setelah mengayuh beberapa lama dari kejauhan tampak rumah yang tadi pagi kulewati. Dengan rasa ragu-ragu, aku melewati rumah tersebut. Lalu kulihat gerbang rumah tersebut. Tidak ada apa-apa kecuali tanaman liar dan rumah yang hangus terbakar. Tak ada tanda-tanda dari gadis yang tadi pagi aku lihat. Heran. Apakah dia memang hantu ? tanyaku dalam hati.

Keesokan paginya, aku bangun lalu bersiap untuk berangkat ke sekolah. Mandi dan memakai seragam serta sepatu. Kumakan sarapan pagiku dengan cepat. Tak lupa mengucapakan salam pada kedua orang tua. Kuambil sepedaku di garasi dan kukayuh sepedaku menuju ke sekolah.

Dari kejauhan, dapat kulihat rumah yang hangus itu. Seperti hari kemaren, tak ada orang yang berlalu lalang. Sepi. Kuberanikan diri untuk melewati rumah tersebut. Lalu kulihat gerbang rumah tersebut. Dari gerbang itu, dapat kulihat rumah yang hangus terbakar itu. Mataku tertuju pada pojok rumah tersebut. Ada seorang gadis sedang berdiri menatap rumah tersebut. Tiba-tiba ia membalikkan badannya dan wajahnya yang seram dengan mata yang menyeramkan menatapku. Aku terkejut dan kukayuh sepedaku dengan kencang.

Tiba di sekolah, kutaruh sepeda di tempat parkir yang disediakan sambil menghirup napas yang panjang setelah mengayuh sepeda tadi. “Hei, Andi. Kau kenapa ? Kok napasmu terengah-engah begitu ?” Fany datang membawa sepedanya. “Ah, tidak apa-apa Ayo masuk kelas nanti keburu bel masuk berbunti. .” jawabku.  “Iya –iya, Hei tunggu dulu !”

Bel dimulainya pelajaran pun telah berbunyi, semua murid masuk ke kelasnya masing-masing. Menunggu guru yang akan memberikan mata pelajaran kepada muridnya. Seperti biasa, karena belum ada guru yang datang teman-teman sekelasku masih berjalan kesana kemari serta bersenda gurau. Aku duduk termenung melihat seorang gadis yang berdiri di rumah hangus itu. Wajahnya yang menyeramkan dan matanya menuju ke arahku. Dari sinar pandangannya kulihat ada sebuah kesedihan yang mendalam. “Hei, Andi ! Pagi-pagi kok sudah melamun.” kata Fany sambil mendekati lalu duduk di sebelah bangkuku. “Mmm….” gumamku. Lalu guru datang dan mulailah pelajaran seperti biasanya.

Jam istirahat seperti biasa, aku dan Fany datang ke kantin. Kami pun membeli makanan yang biasa kami pesan. Kami duduk di bangku yang kosong. “Akhir-akhir ini kamu sedikit berbeda ya ?” tanya Fany sambil memakan sesuap soto. “Aneh apanya ?” tanyaku meminta kejelasan. “ Kamu sekarang banyak melamunnya tak konsen pada pelajaran, tadi pagi kau datang terengah-engah dan kemaren kau jatuh menabrak pohon.” jelas Fany. “Ah….” aku tak bisa menjawabnya. “Ceritalah saja ! Aku pasti akan mendengarkannya. Atau jangan – jangan kamu sedang jatuh cinta ya ?” desak Fany. “ Ah, kamu ini. Enggak ah. Kalau aku sudah siap buat cerita, aku pasti akan cerita.” jawabku sambil meneguk es teh. “Ya, tapi mau sampai kapan kamu pendam itu sendiri ?”  tanya Fany yang sedang menghabiskan sotonya. Lalu kulihat ke arahnya. Aku terdiam, tertunduk. “ Baiklah, akan kuceritakan yang terjadi kemaren pagi.” kataku. Fany pun memandangku dengan mata yang serius. “ Kemaren pagi waktu melintasi rumah yang menurut orang itu angker, aku melihat gadis berdiri disana. Aku kaget dan kukayuh sepedaku dengan kencang hingga menabrak pohon. Tapi sore harinya, tidak ada orang disitu. Lalu tadi pagi, aku lewat rumah tersebut dan kulihat gadis itu lagi dan wajahnya nampak olehku.” terangku pada Fany. “Ha…ha..ha, jadi ini masalahmu.” Fany terbahak-bahak mendengarnya. “Ayolah, ini bukan bohongan, kalau tidak percaya nanti kita datang ke rumah itu.” kataku sambil menepuk pundaknya. “ Ya, iya deh.” jawab Fany menahan tawa.

Sepulang sekolah kami datang ke rumah itu. Kami tidak dapat melihat gadis itu. Kami berdua turun dari sepeda dan mendekat ke rumah tersebut untuk mencari tahu. Kami mencari gadis tersebut di berbagai sudut rumah. Rumah tersebut benar-benar hangus, dindingnya berwarna kehitam-hitaman, banyak tanaman tumbuh dimana-mana tak terawat menimbulkan kesan angker. Namun gadis itu tidak ada dimana-mana. Karena hari sudah sore kami pun memutuskan untuk pulang ke rumah  saja. Kami menghentikan pencariannya.

Esok harinya, aku pun lewat ke rumah tersebut tetapi sekarang Fany menemaniku. Seperti biasa tak ada orang-orang yang berlalu-lalang. Aneh. Gadis itu tidak ada. Benarkah dia adalah hantu tanyaku dalam hati. Lalu kenapa hanya aku yang dapat melihatnya. Kami pun berangkat ke sekolah.

   “Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Ayo cepat ganti baju, pelajaran mau dimulai.” Fany menyodorkan baju olahraga ke tanganku. Setelah ganti baju, aku menuju ke lapangan untuk berolahraga. “Fan, ayo main voli disana !” ajakku sambil menunjuk kearah lapangan voli. “Ayo.”Fany setuju. Permainan voli dimulai  kami melawan dua orang teman kami yang lain. Saat permainan sedang berlangsung, aku melihat gadis yang biasa berdiri di rumah itu. Tak sadar bola sedang mengarah ke kepalaku. Aku jatuh pingsan.

“Andi, kamu sudah bangun ?” tanya Fany. “ Kamu lihat itu tadi nggak, gadis yang biasa berdiri di rumah itu. Tadi dia sedang memakai seragam olahraga seperti kita.” kataku setengah sadar. “Iya, tenang dulu. Bener itu gadisnya ? Berarti dia bukan hantu dan satu sekolah dengan kita ? ” tanya Fany sambil membantuku untuk berdiri dari tempat tidur. “ Iya, aku sangat yakin itu dia.” terangku. “ Ayo kita cari dia !” tambahku. Kami mencari gadis tersebut lalu sampailah kami pada sebuah ruang musik. Kami mendengar alunan lagu yang sangat indah tapi menyedihkan. Kami mengintipnya dari jendela. Ternyata gadis itu yang memainkan lagunya. Bruk. Kepala Fany terkena jendela. Kami bersembunyi dibalik dinding di bawah jendela.     “ Kamu tidak apa-apa kan ?” tanyaku pada Fany. “Tidak apa-apa.”jawabnya saambil mnengelus bagian yang sakit. Lalu kami kembali mengintip. Tetapi tidak ada gadis itu. Tiba-tiba dari arah belakang ada yang menepuk pundakku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.